Pulau Biru di Australia
Famili gue ada yang jadi buruh di Melbourne, Australia. Dia ngasih oleh-oleh cerita buat gw. Dan gw pengen berbagi cerita buat elo….
Setiap pagi, famili gw bangun dengan hati damai. Setiap pagi selalu ada konser dari burung-burung aneka rupa dan suara. Tapi bukan di sangkar. Burung-burung itu berkicau dari pohon ke pohon di sekitar apartemen.
Melbourne, kata famili gw, memang sorganya burung. Di sana ngga’ ada orang piara burung di sangkar. Semua burung dibiarin bebas.
Berangkat kerja juga membawa damai. Di sini banyak pohon yang dihiasi burung-burung aneka rupa. Kalau famili gw bawa makanan di genggamannya, sontak burung-burung itu datang. Mereka mematuk makanan di tangan tanpa rasa takut.
Melbourne juga sorganya manusia.
Dia pernah naik bus kota yang sepi penumpang. Cuma ada 4 penumpang: famili gw, cewek cakep, dan 2 wanita tua. Lalu bus berhenti. Naiklah seorang pria kekar sedang teler. Bau minuman kerasnya menyengat…… Si teler terus berdiri di depan si cewek cakep di bangku belakang, lalu ngajak ngobrol. Sekian lama ngobrol, si cewek cakep berdiri mau turun. Ajaib…… Si teler langsung memberi jalan dengan sopan.
Pernah famili gw melihat mobil tabrakan. Ternyata pelaku tabrakan sama-sama keluar dari mobilnya….. berebut minta maaf.
Famili gw juga ga’ pernah was-was pulang malam sendirian. Biarpun jalanan sepi sekali. Biarpun kantongnya lagi banyak duit. Soalnya, orang yang teler pun biasanya langsung menyalami, “Good Night”. Dengan sangat sopan.
Memang juga ada bule yang rasialis. Tapi jumlahnya cuma segelintir. Ngga’ ada artinya dibandingkan ribuan bule yang memperlakukan famili gw dengan penuh penghargaan.
Makanya famili gw tetap kerasan, biarpun dia kesal sekali waktu Australia ikut menggempur Irak. Lagian banyak warga di sana yang marah sama pemerintahnya. Buat mereka, menyerbu Irak itu sama dengan melangar hak azasi orang Irak.
Yang ngga’ kalah mengesankan adalah di tempat kerjanya. Di sini memang dituntut kerja cepat. Ngga’ ada leyeh-leyeh. Tapi gajinya juga dibayar cepat. Sebelum keringat kering, setiap pekerja pasti sudah dibayar. Seolah-olah mereka pernah mendengar pesan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dulu……
Makanya famili gw berkomentar, “Di sini mayoritas penduduknya bukan Muslim, tapi perilakunya lebih Islami daripada Indonesia yang mayoritas Muslim…..” Temannya malah bilang begini, “Kalau aja orang-orang di sini Islam, gw mendingan tinggal di sini, ga’ mau balik ke Indonesia…..”
Nah lo……….!!!!!!!!
By: Biko Sabri
Dari KanS edisi Sep-Okt 2003
Setiap pagi, famili gw bangun dengan hati damai. Setiap pagi selalu ada konser dari burung-burung aneka rupa dan suara. Tapi bukan di sangkar. Burung-burung itu berkicau dari pohon ke pohon di sekitar apartemen.
Melbourne, kata famili gw, memang sorganya burung. Di sana ngga’ ada orang piara burung di sangkar. Semua burung dibiarin bebas.
Berangkat kerja juga membawa damai. Di sini banyak pohon yang dihiasi burung-burung aneka rupa. Kalau famili gw bawa makanan di genggamannya, sontak burung-burung itu datang. Mereka mematuk makanan di tangan tanpa rasa takut.
Melbourne juga sorganya manusia.
Dia pernah naik bus kota yang sepi penumpang. Cuma ada 4 penumpang: famili gw, cewek cakep, dan 2 wanita tua. Lalu bus berhenti. Naiklah seorang pria kekar sedang teler. Bau minuman kerasnya menyengat…… Si teler terus berdiri di depan si cewek cakep di bangku belakang, lalu ngajak ngobrol. Sekian lama ngobrol, si cewek cakep berdiri mau turun. Ajaib…… Si teler langsung memberi jalan dengan sopan.
Pernah famili gw melihat mobil tabrakan. Ternyata pelaku tabrakan sama-sama keluar dari mobilnya….. berebut minta maaf.
Famili gw juga ga’ pernah was-was pulang malam sendirian. Biarpun jalanan sepi sekali. Biarpun kantongnya lagi banyak duit. Soalnya, orang yang teler pun biasanya langsung menyalami, “Good Night”. Dengan sangat sopan.
Memang juga ada bule yang rasialis. Tapi jumlahnya cuma segelintir. Ngga’ ada artinya dibandingkan ribuan bule yang memperlakukan famili gw dengan penuh penghargaan.
Makanya famili gw tetap kerasan, biarpun dia kesal sekali waktu Australia ikut menggempur Irak. Lagian banyak warga di sana yang marah sama pemerintahnya. Buat mereka, menyerbu Irak itu sama dengan melangar hak azasi orang Irak.
Yang ngga’ kalah mengesankan adalah di tempat kerjanya. Di sini memang dituntut kerja cepat. Ngga’ ada leyeh-leyeh. Tapi gajinya juga dibayar cepat. Sebelum keringat kering, setiap pekerja pasti sudah dibayar. Seolah-olah mereka pernah mendengar pesan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dulu……
Makanya famili gw berkomentar, “Di sini mayoritas penduduknya bukan Muslim, tapi perilakunya lebih Islami daripada Indonesia yang mayoritas Muslim…..” Temannya malah bilang begini, “Kalau aja orang-orang di sini Islam, gw mendingan tinggal di sini, ga’ mau balik ke Indonesia…..”
Nah lo……….!!!!!!!!
By: Biko Sabri
Dari KanS edisi Sep-Okt 2003


<< Home